Saturday, April 26, 2008
Refleksi
Harapan agar anak-anaknya bisa sekolah tinggi bukan menjadi beban saat bekerja. Tetapi menjadi asa, menjadi jalan untuk mencapai harapannya. Harapan seorang penjual minuman saja setinggi itu. Seharusnya saya bisa memiliki harapan yang lebih tinggi dengan jalan yang lebih mudah, mengapa saya harus malas? Bosen? Capek? Padahal saya tidak perlu bekerja. Dan yang paling jelas adalah keadaan ekonominya yang tergolong bawah. Namun harapannya tetap tinggi.
Saya hanya menyadari kalau semua yang saya lakukan pasti akan mencapai harapan saya. Tentunya hal ini berlaku bagi setiap orang dengan cara dan jalan yang berbeda. Kalau saya sebagai pelajar, Bapak Musharip sebagai penjual minuman. Hanya satu hal yang sama yaitu berusaha. Untuk mencapai harapan, tentunya butuh segala usaha. Yang saya dapat, Pak Musharip tidak pernah meminta untuk mencapai harapannya sekalipun ia kurang mampu. Tetapi ia berUSAHA semampunya, sesuai jalan yang ditempuhnya.
-Retha (x5/16)
Friday, April 25, 2008

Sasi (X5/26)
Viny (X5/30)
Sudah berapa lama narik delman, Mas?
Dari SMP kelas satu
Sekarang Mas umurnya berapa?
Sekarang umurnya dua puluh dua
Mas tinggal di mana ya?
Tinggal di Slipi
Oh, deket Regina Pacis!
Iya, tapi saya di deket Rumah Sakit Bakti Mulya-nya
Oh iya, kalau narik dari jam berapa Mas?
Dari pagi..
Sampai malam?
Engga, Cuma sampai jam 6an... Kalo uda keliatan gelap ya saya pulang....
Biasanya ramai tidak kalau narik begini tiap harinya?
Ya tergantung..Kalo ngga ada acara kayak gini (Green Festival) ya sepi banget.
(sesekali ia mencambuk kudanya yang mulai melambat jalannya)
Kalau jalan ke sini (Senayan) naik delmannya langsung gitu Mas, atau gimana?
Iya...Jalan dari rumah langsung naik delmannya.
Ngomong-ngomong, ini kuda dan delmannya dari mana ya mas?
Oh...ini punya orangtua.. dari Jaman Belanda sudah punya.
Kudanya udah tua dong mas?
Ya enggak… Kudanya enggak tua. Maksudnya keluarga saya sudah jual beli kuda dari jaman Belanda.
Hari ini banyak yang naik Mas?
Sehari kira-kira ada berapa orang mas yang naik?
Ya tergantunglah... Kalau ramai bisa sampe 15-an... Kalau sepi ya cuma 5an.... Ya namanya rejeki kan enggak bisa tahu.... Tergantung Tuhan maunya bagaimana.....
Mas sebenarnya suka enggak sih narik delman begini?
Ya suka enggak suka..... Habis memang tidak ada kerjaan lagi.... Apa boleh buat...
Ini lagi wawancara ya? Kok daritadi tanya melulu? (sambil tertawa)
Oh.. iya Mas, jadi kami dapet tugas dari sekolah tentang “Profesi-profesi yang ada di Jakarta”. Kita melihat kan menarik sekali masih ada orang yang mau narik delman yang khasnya Jakarta banget. Kita lihat Mas masih berpegang teguh sama tradisi Jakarta ini. Jadi kita memutuskan untuk mewawancarai Mas. Boleh kan Mas?
Oh.... Boleh.
Mas sendiri orang mana ya?
Saya asli Jakarta. Betawi asli. Dari jaman nenek moyang sudah tinggal di sini.
Kuda ini sendiri ada namanya enggak Mas?
Ini kuda saya kasih nama Sinchan.
Punya berapa delman Mas?
Ada dua....
Terus, kalo kuda satu lagi siapa yang narik Mas?
Tergantung. Kalo ada encing saya ya dia yang narik, tapi kalau enggak ada ya di rumah aja.
Kalau enggak narik ada kegiatan lain enggak Mas?
Enggak. Di rumah aja biasanya.
(tiba-tiba ada penarik delman lain yang menyapanya)
Itu boss disini.
Bos?
Bukan bos sih... Cuma kayak koodinator disini.
Wah! Hebat sekali sampai ada koordinator delman segala!
(tertawa)
Kira-kira disini ada berapa delman Mas?
Waaahhhh.... Banyak banget. Saya kurang tahu berapa tepatnya.
Itu semua dia yang koordinator?
Iya.
(Turun dari delman)
Oh iya Mas, sampai lupa tanya, namanya siapa ya?
Nama saya Nana.
Terima kasih banyak ya Mas Nana sudah mau kita wawancarain. Semoga hari ini banyak yang naik!
Ya. Terima kasih juga.
Refleksi (Sasi) :
Setelah mewancarai penarik delman, saya sangat menyadari bahwa saya sangat beruntung untuk mempunyai kehidupan seperti sekarang ini. Dibandingkan dengan Mas Nana yang hanya bersekolah sampai SD lalu ia harus bekerja menarik delman terus, saya sampai sekarang masih bisa bersekolah dan makan dengan mudahnya. Saya tidak perlu bekerja untuk mendapatkan hal-hal tersebut. Melalui wawancara ini, saya disadarkan bahwa dalam kehidupan saya tidak boleh hanya terus-terusan melihat keatas, tapi saya harus melihat ke bawah dahulu. Saya harus bersyukur akan apa yang saya punyai, bukan merasa tidak puas terus karena tidak dapat memenuhi keinginan saya yang tidak ada habisnya.
Refleksi (Viny) :
Pelajaran yang bisa saya ambil dari pengalaman mewawancarai ini adalah saya harus mengucap syukur atas segala keadaan saya saat ini. Meski saya memiliki banyak kekurangan, tetapi ternyata saya masih lebih beruntung dari orang-orang yang ternyata ada di sekitar kita. Banyak orang berjuang keras demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bekerja banting tulang dari pagi sampai malam, tetapi saya beruntung punya Ayah dan Ibu yang bisa menghidupi saya dengan layak.
Saya sangat senang dapat mewawancarai orang-orang seperti Mas Nana ini. Saya jadi tersadar bahwa saya tidak boleh mengeluh atas segala ketidakpunyaan saya. Selama ini saya mengeluh karena saya tidak sepintar ini, atau saya tidak sehebat dia, dll. Tapi sekarang saya mensyukuri segala apa yang telah Tuhan berikan kepada saya.
Wawancara - Theresia X5/27 & Verina X5/29
Tugas Religiositas
Kami mewawancarai seorang pedagang mainan di Gelora Bung Karno Senayan.
T: Theresia
V: Verina
P: Pedagang
19/04/08, 18:44
T: ehm, Bapak namanya siapa ya pak?
P: Muhammad Toha.
V: Siapa pak ?
P: Muhammad Toha.
T: Oo. Bapak udah lama jualan disini?
P: Udah. Udah lama.
V: Dari kapan ya pak?
P: Udah dari tahun . . ’85.
T: Jualannya selalu di Senayan pak?
P: Di pameran pameran senayan aja. Kadang-kadang di balai sidang, di istora, di tennis indoor, ada musik-musik(baca: konser –red) saya jualan disitu. Kalo enggak misalnya ada gereja-gereja.
T: Ooo gitu. Ehm.. Penghasilan kira-kira berapa pak?
P: ehm, dapet satu hari kira-kira 85, 90.
V: Per hari ya pak?
P: Iya. Per hari. Kadang 75ribu.
T: Modal biasa berapa pak?
P: Modal 40 biasanya. Kalo modal 40 ya dapetlah untung kira-kira 35 ato 40.
V: Bapak berkeluarga ?
P: Iya. Anak saya sebelas.
T: hah? Sebelas pak? Bapak punya anak sebelas?
P: iya, yang
V: ooo. Bapak tinggal dimana pak?
P: Tinggal di Manggarai.
T: Berarti bapak udah punya rumah tetap ya pak?
P: yah, setengah-setengahlah dek.
V: Bapak juga udah punya cucu ya pak?
P: oh, cucu.
V: Tapi gak bapak biayain
P: Enggak. Allhambulillah anak-anak saya bisa ngidupin cucu-cucu saya.
T: Anak bapak masih ada yang sekolah?
P:
V: Tapi semua yang udah kawin udah kerja
P: Iya. Lima-limanya udah punya rumah semua.
T: Bapak penghasilan gak tetap
P: enggak mbak. Paling jualan laku kalo ada acara-acara aja sabtu atau minggu. Hari-hari biasa sih susah mau makan aja.
T: Oo gitu. Terus pak. Kalo dulu mainan yang bapak jual ini
P: Iya. Masih jarang. Dulu jualnya peri-peri gitu. Bando-bando, pistol-pistolan dari air.
T: Iya deh. Makasih waktunya ya pak ya.
V: Makasih ya pak.
P: Iya dek. Sama-sama.
Refleksi Pribadi, Sabtu 19 April 2008.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan Theresia Carolina dan Verina dengan seorang pedagang mainan di daerah senayan. BAPAK MUHAMMAD TOHA.
Saya, Theresia Carolina mengadakan wawancara dengan bapak dari 11 orang anak itu. Jujur, baru pertama kalinya saya benar-benar bertemu dengan seseorang yang memiliki anak sebanyak itu. Yang membuat saya lebih heran… ia yang sudah tua masih harus menghidupi 6 dari 11 orang anaknya. 5 orang anak dari Bapak Muhammad Toha sudah berkeluarga dan untungnya bisa menghidupi keluarganya masing-masing. Memang tanggungannya sudah berkurang karena anak-anaknya sudah berkeluarga, namun ia yang sudah tua masih harus menghidupi enam anaknya dan dirinya sendiri. Anaknya yang paling muda sekarang kelas empat SD dan dengan keadaan yang seperti itu ia masih bisa tersenyum…
Saya bingung, tidak percaya, dan malu. Dalam pikiran saya, orang yang saya mintai waktunya untuk diwawancarai pastilah akan mengharapkan imbalan, namun pada kenyataannya tidak begitu dengan Bapak Muhammad Toha. Memang pemikiran saya buruk pertama kalinya, tapi saya menyesal sudah sempat berpikir seperti itu. Ayah dari 11 anak ini tersenyum mengatakan “ya” saat saya minta ijin untuk diwawancarai. Ia mengesampingkan pekerjaannya dan fokus pada pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan. Ia masih sempat tersenyum dan tertawa di sela-sela pembicaraan tentang pendapatannya yang kecil dan keluarganya yang besar.
Saya merasa tertohok. Saya yang hidupnya serba berkecukupan saja sering sekali marah-marah, bt, atau malah sampai nangis sendiri di kamar karena alasan yang kurang jelas. Rasanya saya bersalah sekali bila dibandingkan dengan bapak tua yang berdiri di depan saya saat itu. Ia berjualan dari pagi sampai malam dan mendapatkan uang Rp30.000 dengan senyum di mukanya. Sedangkan saya menerima uang Rp 50.000 dengan muka kesal karena merasa kurang. Anggapan saya secara sadar tak sadar bahwa saya adalah seseorang yang berada di atas orang seperti Muhammad Toha sangatlah salah begitu ia mengatakan, “yah harus dibawa seneng dek. Kalo dibawa susah terus cepet mati.” Kepada saya. Rasanya seakan jatuh dan penuh luka.
Kalo diingat-ingat lagi hari itu saya tidak bisa dijemput dari rumah teman saya. Karena itu saya marah-marah. Saya memarahi supir dan semua orang dirumah. Hanya karena hal sepele seperti itu saya marah-marah sedangkan Bapak Toha yang tiap-tiap hari harus berjualan demi kehidupannya masih bisa tersenyum. Ia bisa tersenyum meski ia tidak tahu akan dapat uang berapa hari itu. Ia bahkan tidak tahu apa bisa membayar uang sekolah anaknya atau bisa makan atau tidak malam itu. Dengan wawancara ini saya benar-benar disadarkan. Dibangunkan dari mimpi dan anggapan yang salah selama ini. Dibenarkan kesalahan saya yang berpikir bahwa saya lebih tinggi. Berada di atas. Biar dalam segi materi saya bisa saja berada di atas Pak Toha namun dari nilai-nilai kehidupan… saya jauh di bawahnya.
Theresia/27Refleksi Pribadi : Sabtu , 19 April 2008 ,
Saya Verina dan teman saya, Theresia. Sedang berada di sebuah tempat yaitu Pasar Festival di Parkir Timur Senayan. Sorenya itu kami bertemu dengan seorang kakek di dekat pinggiran gerbang keluar. Ia sedang menjual mainan lampu. Saya pun mengajak teman saya untuk mewawancarainya. Ketika ia di wawancarai, saya merasakan sesuatu yang mengharukan.
Sekarang saya akan mengulang sedikit latar belakang Pak Muhammad Toha dan juga sebagian sebagai refleksi saya pada hari ini...........
Kakek itu bernama Muhammad Toha, ia kira – kira sudah berumur 65 tahun. Ia mempunyai 11 anak dan 5 diantaranya sudah bekerja. Sebagian juga sudah menikah serta ada anaknya yang masih bersekolah. Sekarang istrinya sudah meninggal. Kini hanya dia yang dapat menjaga anak- anaknya dengan usianya yang sudah berlanjut. Saya melihat bahwa dirinya adalah seorang pekerja keras. Sebab dengan usianya ini, ia masih mempunyai semangat hidup untuk mencari penghasilan atau kecukupan bagi anaknya. Ia tak mengenal lelah, walaupun hari sudah semakin malam.
Dengan usahanya yang keras, saya menyadari bahwa begitu besar perjuangan yang ia lakukan demi membelikan makan ataupun keperluan sekolah bagi anaknya. Sewaktu itu juga saya merasakan bila saya berada di posisinya, mungkin saya bisa dengan cepat mengeluh karena kelelahan. Tapi apa yang tergambar dalam wajah kakek itu, ia tak pernah mengeluh...Ia juga tak pernah menampakkan wajahnya di depan anak – anaknya bahwa ia lelah, ia juga merasa bahwa ia tak mau membuat anaknya khawatir. Ia bekerja demi kebahagiaan anaknya. Kadang bila penghasilan yang ia dapatkan sedikit, ia berusaha untuk mencari tempat lain dengan menghemat uang dengan berjalan kaki tanpa menggunakan mobil angkutan. Dibandingkan dengan kita, sedikit jalan sudah merasa lelah atau capai, merasa panas karena terkena terik matahari.
Tidak sama dengan orang yang biasanya yang hanya meminta uang di jalanan dan dengan seenaknya meminta uang tanpa adanya usaha keras yang sama seperti yang dilakukan oleh kakek itu. Kadang saya berfikir bila saja saya berada di posisi sebagai orang yang membeli barang, di mana saya juga belum mengetahui latar belakangnya tapi ia terus berjuang untuk mendapatkan uang dengan menawarkan barang yang ia jual, namun kita tidak memedulikannya. Apa yang muncul di benak kita? Mungkin kita berfikir bahwa “ Ah kenapa harus beli di sini, lebih baik beli di mall saja lebih bagus dan lebih antik.” Apakah kita pernah menyadarinya bahwa kata – kata ini bila kita ucapkan di depannya atau tanpa sengaja terucapkan, dapat menyakiti hatinya. Karena ia-lah yang membuat benda – benda itu untuk dijual. Menggunakan barang - barang bekas untuk membuat barang seperti ini. Karena mereka tak cukup uang untuk membeli bahan- bahannya, maka mereka berfikir untuk membuatnya sendiri. Usaha yang telah ia buat malah kita tolak dan tak mau membelinya.
Begitu banyak tanggungan besar yang masih harus ia hadapi, namun kita yang berada di posisi di mana kita sudah terpenuhi, baiknya bila kita tidak menyiakannya. Karena kadang ada sebagian orang yang masih tidak cukup pada sesuatu yang telah ia dapatkan. Pada saat kita mendapatkan makanan kita kadang mengeluh bahwa makanan yang kita dapat rasanya kurang enak, pasti ada saja keluhan yang kita keluarkan. Tapi bagaimana jika berada di posisi di mana kita tidak memiliki sesuatu, seperti makanan saja sulit untuk diperoleh. Mungkin saja makan dalam 1 hari hanya bisa sekali saja. Tapi mereka yang tak mampu, berusaha untuk berfikir positif, bahwa asalkan mereka bersama dengan keluarganya, mereka sudah merasa bahagia. Mereka tegar untuk tidak mengeluh. Mereka tak mau mengenal kata putus asa.
Alangkah baiknya kita di masa remaja ini saling membantu orang yang kurang mampu. Janganlah kita sedikit – sedikit mengeluh pada sesuatu yang tidak ada hasilnya. Tapi cobalah untuk berfikir positif, dan syukurilah pada apa yang telah kita dapatkan selama ini.
Verina/29
Menjual Minuman, Menyambung Asa

Pak Musharip kerapkali berjualan di arena balap motor liar yang sering diadakan setiap akhir minggu. Akhir minggu ini menjadi pilihan tepat baginya karena saat akhir minggu lah di mana dagangannya habis laku. Sementara di hari lain, Pak Musharip hanya bisa menganggur sesekali bertani. Selain itu, dengan bekerjasama dengan beberapa penjual lainnya, Pak Musahrip selalu mencari info acara-acara besar yang akan diselenggarakan. Seperti Green Festival kemarin di Parkir Timur Senayan maupun pentas seni yang kerap kali terlaksana di berbagai tempat. Setiap kali berjualan, tempat berjualan seringkali berpindah. Rumahnya jauh terletak di Tangerang. Hal ini memaksanya untuk berangkat lebih pagi dan menempuh perjalanan jauh, namun tidak dihiraukannya asal mendapat penghasilan.
Pak Musharip mengeluh masalah larangan pemerintah yang melarang pendagang kaki lima berjualan namun tidak mengeluarkan solusi tepat. Padahal penghasilannya untuk keluarganya. Setiap minggunya bapak yang berusia 41 tahun ini memperoleh penghasilan sebesar Rp 100.000,- hingga Rp 200.000,-. Dirasanya, penghasilan tersebut cukup untuk makan keluarga dan sekolah bagi keempat anaknya. Harapan besar bagi anak-anaknya menjadi cambuknya setiap hari saat berjualan. Ia sangat berharap dewasa nanti, anak-anaknya tidak bekerja menjadi pedagang kaki lima sepertinya. Tetapi menjadi lebih baik darinya dan dengan berdagang minumanlah ia pilih untuk mencapai asanya.
Refleksi "kaya" dengan caranya sendiri
Hal yang paling berkesan untuk saya adalah bagaimana Bpk. Agung tetap mensyukuri dan menikmati kehidupannya walaupun ia hidup berkekurangan. Meskipun dia hanya bekerja sebagai penjual minuman ia mencintai dan melakukan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Baginya kekayaan itu tidak harus selalu tentang uang, ia merasa kaya dengan hal-hal lain yang dimilikinya, hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang. Kadang banyak dari kita yang mengukur segala sesuatu dengan uang, bahkan ada yang mengatakan kebahagian itu ada jika kita memiliki uang, kita tidak menyadari bahwa banyak hal-hal yang dapat membuat kita bahagia meskipun tidak memiliki uang. Bpk. Agung tidak perlu memiliki banyak uang untuk membuatnya merasa kaya. Ia merasa kaya dengan adanya keluarga yang menyayanginya dan kehidupannya sekarang.
Setelah melakukan wawancara dengan Bpk. Agung, saya menyadari ternyata di luar sana banyak sekali orang-orang yang hidupnya tidaklah mudah, untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa mereka harus bekerja keras dari pagi sampai larut malam. Selama ini saya seperti hidup di dalam kotak yang telah diatur senyaman mungkin oleh kedua orangtua saya sehingga saya tidak mengerti apa rasanya hidup serba berkekurangan, karena terbiasa dimanja oleh orangtua kadang saya “menutup mata” pada orang-orang yang susah. Saya sering tidak bersyukur atas apa yang saya miliki, padahal saya dapat bersekolah di sekolah yang bagus, setiap hari mendapat uang jajan dari orangtua saya tanpa perlu bekerja keras, dapat hidup nyaman sedangkan diluar sana banyak orang yang tidak dapat merasakan kehidupan seperti yang saya miliki sekarang ini. Setelah wawancara ini saya merasa bersyukur atas apa yang telah saya miliki, dan mungkin untuk menciptakan kehidupan yang nyaman untuk saya kedua orangtua saya telah bekerja membanting tulang karena itu saya harus menghargai apa yang telah mereka berikan dan tidak menuntut macam-macam.
Adilkah Ini?
Pada hari Selasa (22/4), kami berdua (Cella dan Maya) pergi berkeliling jalan pos untuk mencari orang yang tepat untuk kami wawancari. Dan kami pun melihat seorang bapak tua penjual koran, majalah dan tabloid. Kami pun berbincang-bincang, dengan bapak yang ternyata telah berdagang koran di kantor pos sejak tahun 1966 ini. Kami banyak melihat dan mendengar pasang surut sebagai seorang penjual koran yang juga sebagai seseorang yang tidak mampu.
Ia pun bercerita bagaimana cara ia berjualan koran. Pertama, ia akan pergi ke agen dari berbagai tempat (seperti di senen, lapangan banteng, dll) untuk mendapatkan harga yang semurah mungkin walaupun itu hanya berbeda beberapa ratus rupiah saja. Karena menurut mereka perbedaan beberapa ratus rupiah sangat berarti bagi mereka. Kemudian ia akan membeli majalah tersebut. Ia tidak melakukan sistem “titipan” (yang berarti si penjual dapat mengembalikan kembali pada sang agen jika tidak laku dan hanya membayar majalah yang terjual saja) karena harga satu majalah menjadi jauh lebih mahal dibandingkan jika ia membeli sendiri yang resikonya jika tidak laku ia tidak dapat mengembalikannya kepada sang agen serta ia harus membayar semuanya yang ia ambil. Sehingga kita dapat membayangkan bagaimana bila majalah yang dibelinya tersebut tidak laku. Ia akan menanggung kerugian seharga barang yang telah ia beli tersebut.
Padahal yang menjadi pendapatannya adalah keuntungan dari menjual koran, majalah, dan tabloid tersebut yang tidak seberapa besar. Keuntungan yang dapat diambil dari menjual satu koran saja hanya Rp 200,00 sedangan untuk penjualan satu tabloid hanya Rp 500,00 dan untuk satu majalah hanya Rp 1.000,00. Sehingga dapat dimengerti jika Bapak ini tidak mau menyebutkan secara langsung berapa keuntungan yang ia dapat dalam menjual semua barang dagangannya itu. Tapi bila dihitung secara kasar dan diandaikan jika ia dapat menjual koran sebanyak dua puluh sehari maka ia telah memperoleh keuntungan sebanyak Rp 4.000,00 kemudian jika ia dapat menjual sepuluh tabloid dalam sehari, ia akan memperoleh keuntungan Rp 5.000,00. Selain itu, menjual majalah tidaklah mudah. Jadi kita anggap saja ia dapat menjual lima buah majalah. Maka ia akan mendapat keuntungan Rp 5.000,00. Dari perhitungan kasar ini, kurang lebih ia mendapatkan keuntungan Rp 14.000,00 tapi bagaimana dengan dagangannya yang tidak laku. Ia pasti akan mengalami kerugian lagi. Oleh karena itu keuntungan Rp 14.000,00 itu masih merupakan keuntungan kotor. Bukan keuntungan yang bersih. Jadi kami berdua belum dapat memperhitungkan keuntungan bersih yang ia dapatkan dalam penjualannya selama sehari.
Ia pun juga bercerita bilamana ia sedang mengalami kesulitan uang untuk keperluan rumah tangganya, ia akan menjual majalahnya lebih murah dikalangan penjual koran dan tentu saja ia akan mengalami kerugian yang cukup besar. Dengan hasil penjualan yang tidak menentu ini, ia memang dapat memberi makan istri dan empat orang anaknya ini. Namun untuk kebutuhan sekunder sangatlah jauh dari harapan. Terutama untuk pendidikan anak-anaknya.
Ia bercerita bagaimana ketiga anaknya dari empat anaknya yang telah putus sekolah karena keterbatasan biaya. Anaknya yang pertama saja dapat menyelesaikan pendidikannya sampai ke jenjang S1 karena mendapatkan beasiswa. Namun gelar S1 tersebut tidak menjamin sang anak untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan, hal itu terbukti dengan pekerjaan anaknya yang pertama adalah sebagai ticketing di bus transjakarta. Belum lagi anaknya yang perempuan di drop out dari sekolah perawat karena tidak mampu membayar biayanya. Menurutnya, ini sungguh tidak adil dan andai saja ia dapat menangis, mungkin ia sudah menangis.
Bapak ini berkata kepada kami bahwa kami sangatlah beruntung menjadi seorang anak yang kebutuhannya tercukupi dan bisa di sekolah yang bagus. Ia pun berpesan agar kami tidak menyia-nyiakan pendidikan yang kami dapat. Dan ia juga secara tak langsung menghimbau kepada kami, agar kita ini menjadi seorang yang perhatian kepada kaum papa yang ada disekitar mereka.
Kurang lebih seperti itulah wawancara singkat kami kepada seorang Bapak yang mempunyai pekerjaan sebagai penjual koran. Semoga wawancara ini dapat membuka mata dan hati kita sehingga kita dapat mendobrak tembok yang selama ini membelenggu diri kita dan dapat menginspirasi kita untuk berbuat sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita. Dapatkah kita sadari ternyata banyak orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita dan sebenarnya mereka selama ini berada di sekitar kita?
Refleksi Cella/15
Setelah mendengarkan kisah hidup sang Bapak, kita seharusnya merasa malu dengan diri kita sendiri. Kita sering merasa malas untuk bersekolah dan tidak jarang pula mengeluh jika disuruh pergi kursus. Padahal itu semua demi kepentingan kita sendiri di masa yang akan datang. Selain itu, kita juga sering tidak merasa puas dan bersyukur dengan apa yang telah kita miliki sekarang. Padahal masih banyak orang yang kekurangan dan mereka bersyukur untuk apa yang mereka dapatkan hari itu. Kita harusnya menyadari ternyata masih banyak orang yang tidak dapat hidup dengan layak dan masih banyak yang diperlakukan tidak adil hanya karena mereka tidak memiliki uang dan kedudukan. Mereka direndahkan dan seringkali tidak dianggap. Padahal tidak sedikit juga dari mereka yang memiliki bakat lebih dari kita. Oleh karena wawancara ini, kita menjadi tahu bahwa tidak banyak orang yang mendapat penghidupan dan pendidikan yang layak. Masih banyak yang harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi tidak jarang kita membuang-buang makanan dengan alasan yang klise. Saya harap dengan wawancara ini, kita membuka mata dan hati kita untuk orang-orang yang ada di sekitar kita yang membutuhkan bantuan kita.
Refleksi Maya/21
Dalam kehidupan memang kemiskinan menjadi salah satu pewarna dalam kehidupan. Namun yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi dari kemiskinan tersebut. Seperti bapak tersebut, walaupun kemiskinan telah melanda dirinya ia tetap tabah dan sabar menghadapi kemiskinan dirinya dan keluarga. Dari perbincangan itu, saya makin menyadari dan bersyukur saya bisa bersekolah di tempat yang bagus dan juga tidak serba berkekurangan seperti mereka. Oleh karena itu, kita juga harus membagi kesenangan kita kepada mereka yang tidak mempunyai ‘hal yang sama’ seperti kita. Dengan misalnya pergi ke panti asuhan untuk menderma kepeda mereka yang ada dipanti asuhan. Atau setidaknya kita memberikan perhatian kemudian menaruh hormat kepada mereka. Tidak menganggap jijik mereka. Namun jangan juga memberikan sedekah kepada mereka sebagai bentuk dari kebaikan kita karena memang dengan memberikan uang itu tidak mendidik mereka agar bekerja dengan keras. Dan juga akan terlihat bahwa untuk mendapatkan sesuatu kita harus bekerja keras.